Tugas Cerita Rakyat (PBSI)

Nama: Juliyanti Rahayu
Kelas: X MIPA 4
Tanggal/Hari: Senin, 15 November 2021
Mata pelajaran: Bahasa Indonesia


*Bab IV MELESTARIKAN NILAI KEARIFAN LOKAL MELALUI CERITA RAKYAT*
           
             *A. Mengidentifikasi Nilai-nilai dan Isi Hikayat*

                  *Kegiatan 1:* *Mengidentifikasi Isi Pokok Cerita Hikayat dengan Bahasa Sendiri*.
                                         Halaman 107 
                                    
                                         *Tugas 1 dan 2*: halaman 111

Tugas 1
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
1. Siapakah Indera Bangsawan?
2. Bagaimana keadaan kelahiran Indera Bangsawan?
3. Siapakah putri yang ditolong oleh saudara kembar Indera Bangsawan?
4. Apa yang dilakukan Syah Peri setelah berpisah dengan Indera Bangsawan?
5. Mengapa Indera Bangsawan dan Syah Peri terpisah?
6. Bagaimanakah cara Indera Bangsawan mengalahkan Buraksa?
7. Bagaimana cara Indera Bangsawan masuk ke dalam istana Raja Kabir?
8. Siapakah yang selalu menolong Indera Bangsawan sehingga ia selalu 
bisa melakukan hal sulit yang diminta Raja Kabir?
9. Apakah Putri Kemala Sari mengetahui penyamaran Indera Bangsawan?
10. Apa amanat yang dapat dipetik dari hikayat di atas?

Jawaban 
 
1. Indera bangsawan adalah seorang anak putra dari raja Indera Bungsu dari Negeri Kobat Syahrial.
2. Indera Bangsawan keluar dari rahim ibunya bersama dengan pedang.
3. Putri Kemala Sari.
4. Yang dilakukan Syah Peri setelah berpisah dengan Indera bangsawan adalah menolong Putri Ratna Sari dan mengeluarkannya dari sebuah gendang, kemu-dian menangkap seekor garuda dan menikah dengan putri Ratna Sari.
5. Mereka terpisah karena terjadi hujan lebat yang disertai topan, angin ribut, ke-lam kabut, dan gelap gulita.
6. Dengan menggunakan jerat yang ditarik seekor kuda. Buraksa tertarik tali itu saat minum air dari bejana. 
7. Indera Bangsawan menyamar sebagi budak-budak berambut keriting.
8. Seorang raksasa.
9. Putri Kemala Sari tidak mengetahui penyamaran Indera bangsawan.
10. Jika membantu seseorang kita tidak boleh pamrih dan harus ikhlas dengan apa yang kita lakukan orang lain.

Tugas 2
Untuk memahami isi pokok hikayat,selain menjawab pertanyaan,kamu juga dapat mencari pokok pokok setiap bagian hikayat.Berikut ini di sajikan contoh analisis isi pokok hikayat.setelah memahaminya,cobalah melanjutkan mencari isi pokok paragraf paragraf selanjutnya pada kolom yang sudah disediakan.

Jawaban

Paragraf 1:
Hikayat ini menceritakan tentang dua putra raja, kembar, yang bernama Indera bangsawan dan Syah peri.

Paragraf 2:
Meski Baginda raja bingung menentukan calon pengantinnya sebagai raja beliau tetap menyuruh kedua putranya untuk menuntut ilmu agar layak menjadi raja.

Paragraf 3:
Syah Peri dan Indera Bangsawan pergi mencari buluh perindu.

Paragraf 4:
Syah Peri dan Indera Bangsawan berpisah karena hujan, angin ribut, taudan, kelam kabut yang terjadi pada suatu hari.

Paragraf 5:
Syah Peri yang menyerahkan diri kepada Allah Subhanahuwatala

Paragraf 6:
Syah Peri menemukan Putri Ratna Sari setelah menoreh gendang dengan pisau

Paragraf 7:
Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa yang menjadi neneknya dan bercerita bahwa ia berada negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir.

Paragraf 8:
Raja Kabir mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa dan yang dapat memberikan air susu harimau yang baru saja beranak akan dinikahkan dengan Puteri Kemala Sari yang sedang sakit mata. 

Paragraf 9:
Titah baginda mengenai barang siapa yang mendapat susu harimau akan menikah dengan tuan putri.

Paragraf 10:
Kesaktian Si Hutan telah kembali seperti dahulu kala.

Paragraf 11:
Kesembilan anak raja menemui Indera Bangsawan untuk meminta susu harimau tetapi oleh Indera Bangsawan diberikan susu kambing. Sedangkan susu harimau diserahkan Indera Bangsawan kepada raja.

Paragraf 12:
Putri Kemala Sari pun sembuh, tetapi Raja Kabir masih bersedih hati karena harus menyerahkan Putri Kemala Sari kepada Buraksa.

Paragraf 13:
Raja Kabir mengumumkan bahwa barang siapa dapat mengambil jubah Buraksa akan menjadi suami Putri Kemala Sari.

Paragraf 14:
Indera Bangsawan berhasil membawa lari Puteri dan mengambil jubah Buraksa karena Buraksa lumpuh.

Paragraf 15:
Kesembilan anak raja mengambil selimut Buraksa dan hendak mengatakan bahwa selimut Buraksa adalah jubah Buraksa.

Paragraf 16:
Indera Bangsawan menyerahkan Puteri dan jubah Buraksa kemudian Raja mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri Kemala Sari.

                                  *Tugas 3*: halaman 116 
Jawaban

Isi pokok :

1. Hikayat ini menceritakan tentang seorang raja yang terpaksa mengasuh sendiri 10 orang putri karena istrinya telah meninggal dunia. Sepuluh putrinya itu sangat nakal dan manja.

2. Hanya satu putri yang tidak nakal dan tidak manja yaitu putri kuning.

3. Ketika ayahnya akan bepergian 9 putrinya meminta dibawakan oleh-oleh baju dan perhiasan yang mahal sedangkan Putri Kuning hanya minta ayahnya pulang dengan selamat.

4. Selama ayahnya pergi kesembilan putri raja semakin nakal dan malas, sebaliknya Putri Kuning merawat taman ayahnya dengan rajin.

5. Putri kuning diledek sebagai pembantu oleh kakak-kakaknya.

6. Ketika ayahnya pulang Putri Kuning mendapat hadiah yang paling indah yaitu kalung batu hijau.

7. Putri Hijau, sang kakak menuduh Putri Kuning mengambil kalung batu hijau miliknya.

8. Kesembilan kakaknya merebut kalung batu hijau itu dari tangan Putri Kuning. Tak hanya itu, mereka juga memukul Putri Kuning hingga meninggal.

Susunlah sinopsis berdasarkan pokok isi hikayatnya.

1. Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang putri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana, tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya. Krena itu, ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan
anaknya yang bungsu sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Putri-putri raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi di antara mereka.

2. Kesepuluh putri itu dinamai dengan nama-nama warna. Putri Sulung bernama Putri Jambon. Adik-adiknya dinamai Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, dan Putri Kuning. Baju yang mereka pakai pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Putri Kuning sedikit berbeda, ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka berpergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.

3. Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua putri-putrinya. “Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?” tanya raja.
“Aku ingin perhiasan yang mahal,” kata Putri Jambon.
“Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau,” kata Putri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Lain halnya dengan Putri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya. “Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat,” katanya. Kakak kakaknya tertawa dan mencemoohkannya.
“Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu,” kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.

4. Selama sang raja pergi, para putri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para putri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Putri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Putri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daundaun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Putri Kuning tetap berkeras mengerjakannya.

5. Kakak-kakak Putri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras.
“Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,” kata seorang di antaranya.
“Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Putri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Putri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya. “Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!” kata Putri Kuning dengan marah.
“Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!” ajak Putri Nila.
Mereka meninggalkan Putri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang.

6. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan putrinya masih bermain di danau, sementara Putri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih.
“Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!” kata sang raja. Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya.
“Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning,” kata Putri Kuning dengan lemah lembut.
“Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah,” ucapnya lagi. Ketika Putri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Putri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya.

7. Keesokan hari, Putri Hijau melihat Putri Kuning memakai kalung barunya.
“Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Putri Hijau!” katanya dengan perasaan iri.
“Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu,” sahut Putri Kuning.
Mendengarnya, Putri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudarasaudaranya dan menghasut mereka.
“Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarinya berbuat baik!” kata Putri Hijau.

8. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Putri Kuning muncul. Kakak-kakanya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Putri Kuning meninggal.

                   *Kegiatan 2:* *Mengidentifikasi Karakter Hikayat*
                                          Halaman 119

                                          *Tugas*: halaman 120

 
                   *Kegiatan 3:* *Mengidentifikasi Nilai-nilai dalam Hikayat*
                                          Halaman 123

                                          *Tugas:* halaman 124

Hikayat Bayan Budiman di atas dan temukanlah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Jawaban
             *B. Mengembangkan Makna (Isi dan Nilai) Hikayat*

                  *Kegiatan 1:* *Mengidentifikasi Nilai-nilai dalam Hikayat yang Masih sesuai dengan Kehidupan Saat ini*

                                         *Tugas:* halaman 126
Bacalah hasil analisis nilai-nilai yang terkandung dalam Hikayat Bayan Budiman di atas, kemudian analisislah apakah nilai-nilai tersebut masih sesuai dengan kehidupan saat ini. 

Jawaban

                   *Kegiatan 2:* *Menjelaskan Kesesuaian Nilai-nilai dalam Hikayat dengan Kehidupan Saat ini dalam Teks Eksposisi*
                                         
                                         *Tugas:* halaman 127

Tugas
Buatlah tesis berdasarkan nilai-nilai dalam hikayat yang masih relevan dengan kehidupan saat ini. Selanjutnya, kembangkanlah tesis tersebut ke dalam teks eksposisi.

Jawaban

1. Nilai dalam Hikayat:
Terdapat nilai religi untuk berdoa kepada Tuhan dan berusaha agar memiliki anak. Nilai religi ini masih sesuai dengan kehidupan saat ini.

Tesis/ pernyataan sikap:
Manusia wajib menempatkan agama dalam kehidupannya, termasuk ketika mengharapkan keinginannya bisa tercapai.

Pengembangan:
Manusia adalah hamba Tuhan di muka bumi. Ia wajib mengikuti kehendak dan ketentuan sang Pencipta. Apabila Tuhan menghendaki manusia mendapat rezeki, memiliki keturunan atau sebaliknya, maka terjadilah. Namun demikian, apabila manusia sudah berusaha keras untuk memiliki keturunan, namun belum terwujud, langkah yang seharusnya dilakukan manusia tersebut adalah berdoa dan pasrah kepada Tuhan. Bukan hanya pada hikayat, pada zaman sekarang pun manusia harus bekerja keras untuk memperoleh apa yang dicita-citakannya, dan pada saat yang sama ia harus rajin berdoa kepada Tuhan.

2. Nilai dalam hikayat:
Terdapat nilai religi dan pendidikan yaitu ketika Khojan Maimun mengaji. Nilai religi dan pendidikan ini masih sesuai, namun sangat jarang yang melakukannya.

Tesis/ pernyataan sikap:
Hingga saat ini, pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Ada orangtua yang menghendaki anaknya menguasai ilmu modern sekaligus ilmu agama.

Pengembangan:
Pendidikan yang dilaksanakan oleh Khoja Maimun dengan ngaji di berbagai tempat hingga usia lima belas tahun merupakan upaya dari orang tua Khoja Maimun demi kesuksesan anaknya. Pada zaman sekarang, ada orangtua yang mengirimkan anaknya ke tempat pendidikan agama (pesantren), sekaligus memberi bekal ilmu modern kepada anak-anak mereka.

3. Nilai dalam hikayat:
Terdapat nilai kebudayaan yaitu perjodohan. Nilai kebudayaan ini sudah sangat jarang terjadi, sebagian besar memilih jodoh sendiri-sendiri.

tesis/ pernyataan sikap:
Meskipun kebudayan modern membebaskan manusia sehingga bisa bertingkah semaunya, namun perjodohan masih relevan dilakukan pada zaman sekarang.

Pengembangan:
Meskipun kebudayaan modern membebaskan manusia sehingga bisa bertingkah semaunya, namun perjodohan masih relevan dilakukan pada zaman sekarang. Hal tersebut karena bangsa Indonesia masih memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat erat dan sangat menghormati orang tua. Dengan demikian, orangtua akan memilihkan yang terbaik bagi anaknya, salah satunya melalui perjodohan.